MEMORI LAMA


Oleh: Fitratul Wilianti
Dulu tepatnya di bulan april 2018 sehari setelah Ujian Nasional berakhir, aku dan beberapa teman kelasku memutuskan untuk mengadakan perpisahan terakhir dengan mendaki gunung, kebetulan saat itu aku sedang tertarik dengan petualangan-petualangan serta picture terbaru sebagai postingan instagram akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengan rencana mereka. Kemudian kami memutuskan untuk mendaki salah satu Puncak gunung tertinggi di ujung timur kota Bima namanya adalah “Punce”, Gunung tersebut membutuhkan waktu sekitar 4 jam untuk mendaki, akan tetapi pada saat itu karena ada 4 orang teman perempuan yang ikut, termasuk aku didalamnya jadi itu merupakan salah satu beban bagi teman kami yang laki-laki karena menambah beban tanggung jawab dan memperlambat perjalanan.
Saat itu kami mulai berangkat dari kota Bima sekitar ba'da ashar pukul 16.00 sore, dan mulai mendaki sekitar jam 17.00 kemudian sampai tepat di jam 23.30. Kami menghabiskan waktu sekitar 7 jam selama perjalanan, dan pada saat itu aku hampir ingin pulang karena sudah tidak kuat lagi mendaki. Saat itu aku masih ingat kalau aku pernah membatin bahwa aku tidak akan pernah mendaki gunung apapun lagi, dan ini adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Kata-kataku saat itu lumayan membuatku greget saat ini, karena sekarang kakiku sedang gatal dan ingin mendaki gunung lagi.
 Kami sampai di Puncak pukul 11 malam, setelah sampai sedikit mengobati rasa capek karena diganti dengan pemandangan luar biasa dipuncaknya sungguh luar biasa, seluruh hamparan kota dan kabupaten Bima terlihat, lautan bahkan daratan, dan yang semakin menambah keindahan adalah ketika dilengkapi dengan indahnya kelap-kelip Bintang malam. Saat itu merupakan moment paling keren menurutku, tapi sedikit yang membuatku menangis adalah cuaca yang begitu dingin disana yang bahkan air, makanan, minyak, bahan-bahan masakan lainnya membeku, seakan baru dikeluarkan dari vriser, dan kondisi tubuhku hampir sama dengan makanan-makanan itu. Di tambah dengan kakikku yang sakit-sakitan karena pertama kali mendaki gunung. Tapi semua rasa dan kesakitan itu seketika hilang jika aku kembali memandang keindahan tempat itu dan tingginya sifat solidaritas dan persahabatan antara kami. Dan sekarang aku ingin sekali mengulangi moment-moment itu untuk merefresh memori-memori lamaku.






Pondok Pesantren Darun Nun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

CARA JITU DIDO'KAN MALAIKAT