Postingan

Menampilkan postingan dengan label PUISI

شُكْرً اُمِّي وَاَبِي عَلَي تَرْبِيَتِكُمَا

 شُكْرً اُمِّي وَاَبِي عَلَي تَرْبِيَتِكُمَا Oleh: Muhammad Irhaz Irham رأيت من خط جفنيه بدأ يتجعد أعلم أنهم كانوا يشاهدونني دائمًا عندما كنت طفلاً حتى الآن رأيت من نظرة وجهه التي بدأت تتجعد أعلم أنهم نصحواني دائمًا منذ الطفولة حتى الآن رأيت من جسده بدأ ينحني أعلم أنهم يثقفونني دائمًا منذ الطفولة وحتى الآن رأيت من فوق تاج رأسه الذي بدأ يتحول إلى اللون الأبيض أعلم أنهم دائمًا ما يفكرون في وضعي كطفل حتى الآن أمي .. أبي .. أشكرك على تعليمي وتعليمي من المستحيل بالنسبة لي أن اجزي له لكنني وعدي اليكما سأكون دائمًا الأفضل الطفل لك من الآن فصاعدا إلى الأبد يا إلهي يا ربي.. أشكرك ، لقد خلقت والدي المكان الرئيسي لمشاركة هذا القلب عندما تكون وحيدًا ومكتئبًا أريد أن أجعلهم سعداء حتى ابتسامتهم الأخيرة أريد أن أجعلهم سعداء حتى نصيحتهم الأخيرة أمي ... أبي ... أشكرك على كل ما قدمته لي

Lelah?

Gambar
Sumber: www.4.bp.blogspot.com Oleh: Meisya Eva Natasya   Terkadang aku harus memilih  Untuk tidur bertahun-tahun lamanya Dari pada menyaksikan bumi Yang teramat berat bebannya Tapi aku sadar,  Bumi yang ku pijak bukanlah dongeng Bumiku lebih membutuhkan belia yang selalu bangkit Dan tak kehilangan asa dari pada seorang putri tidur Aku sadar,  Rasa takut yang semakin menjadi-jadi Karna tak peduli seberapa terangnya kebenaran Ia mampu dibungkam dan dikurung dalam gulita Namun benarlah kata “Patah tumbuh hilang berganti” “Mati satu tumbuh seribu”

Cukup Jadi Diri Sendiri

Gambar
  Sumber: Wikimedia Oleh: Meisya Eva Natasya Dari banyaknya jenis flora Malangnya aku lahir sebagai putri malu Tidak mempesona seperti mawar Tidak semanis kembang sepatu Tidak segagah bunga bangkai Ada yang membenci keadaanku Karna tak sengaja diriku melukainya Ada yang menyukai kedatanganku Karna asyik dipermainkan Ada yang caranya mengelus Ada pula yang caranya menginjak Namun beruntungnya aku bisa tumbuh dimana saja Persetan dengan suhu dan daerah Apa aku terlalu kuat ?  Atau bahkan terlalu liar ?  Entahlah yang jelas Aku tak perlu bergantung pada manusia untuk menyiramiku setiap hari Aku masih terus tumbuh dengan air hujan yang datang sesekali

Jingga di Perjalanan

Gambar
  Dokumen Pribadi Oleh: Meisya Eva Natasya Pada-Nya, yang Maha Merajai Langit dan Bumi Ku haturkan rasa syukur yang tak pernah usai Atas nikmat dan karunia yang selalu diberikan Mesti suka dan duka selalu datang silih berganti Tapi dia tak pernah membiarkanku sendiri Senja, Jinggamu yang hampir terlewatkan begitu saja Adalah bagian dari nikmat yang ku syukuri Bersamamu kurangkai kata menjadi kalimat lalu menjadi paragraf Bersamamu bibir ini tak mau berhenti mengucap kalam-kalam-Mu Jingga di perjalanan Terimakasih sudah menjadi kisah senjaku hari ini

DAM LONDO

Gambar
sumber : harian nusantara   Oleh: Moh. Aang Fajar B   Berdiri kokoh bakoh Membisu memprasasti Dia jadi saksi Belanda pernah di sini   Membangun DAM   besar Membendung air sungai baru Membagi mengairi melaju Lewat kanal- kanal mengalir Dari hulu hingga hilir   DAM BELANDA NAMANYA   Berdiri kokoh membatu Menjadi saksi Belanda pernah di sini   Sawah-sawah jadi subur Rakyat jadi makmur Gemah ripah loh jinawi Dari dulu hingga kini Tetap setia mengairi     Ribuan Jutaan Merasakan kesejahteraan Berkat tetesan peluh dan darah Para pekerja rodi Membangun DAM ini.   Blokagung, 22:27 3Des 2022

Tentang Luka

Gambar
  Dokumen Pribadi Oleh: Dinda Novita Sari Tangis yang tumpah, menyalurkan lara didada... Membawa luka yang yang mengalir bersama air mata..  Aku hanya sosok yang terluka, oleh keegoisan yang tak mau mengalah...  Di bawah rintik hujan aku mengadu, menumpahkan semua rasa sakit yang ku pendam sendiri...  Bersama ombak aku berlari, berharap sakit itu hilang bersama deburnya...  Dan Bersama angin aku berharap, agar membawa bahagia yang selama ini ku rindu... Biar kukatakan pada senja tentang lara yang tak kunjung reda... Biarkan ku sembunyi dibalik senyum, menggenggam erat luka itu sendiri...  Biarkan ku bercurah padamu Tuhan, tentang kasih yang telah lama ku rindu...

Saat Ini

Gambar
  Sumber: iphincow.com Oleh: M. Ikbal Miris,.. Semangatku berjuang Dikala pikir pesimis, dalam posisi hati mengemis Membangun pola untuk terus optimis Dimana pola pikir begitu miris, harus selalu terlihat logis Hmm... Tak ada usaha, sudahlah.. Malasku terus menjadi penghalang Dikala berharap dunia tak bermasalah, melihat esok tak akan berubah Tak ada lagi istilah kaca pecah, disaat seseorang bersusah payah Menjadi lelah, menghadapi mereka yang berulah Bahagia sebagai acuan,.. Menjadikan tindakanku sering berulang Dikala waktu sebagai korban, dari pahitnya ketidakcocokan Menuntun jalan, mencari kebahagiaan  Jawaban atas kenyataan Waktuku terus menghilang Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Semangat Ya

Gambar
sumber : https://id.pinterest.com/pin/131730357844592222/ Oleh : Hariski Romadhona Setya Kuliah bukan perihal gelar Bukan ajang adu gengsi apalagi eksistensi  Bukan juga perihal perlombaan cari kerja Tapi, kuliah adalah tempat membentuk value Lebih tinggi lebih baik lagi Kuliah tidak semudah itu Masuknya susah keluarnya pun penuh air mata Hanya demi sebuah gelar Ada Pundak orang tua yang merintih Ada keinginan anak tuk jadi orang Ada takdir yang menentukan jalan hidup Terlambat, Gagal bukanlah kesalahan Masing masing berproses dengan prosesnya sendiri Terlambat, Gagal bukan hal salah Jadikan kegagalan batu loncatan Tuk menuju tak terbatas dan melampuainya Nikmati setiap prosesnya Teruslah menatap dan berjalan ke depan https://id.pinterest.com/pin/131730357844592222/

Srengenge

Gambar
Sumber : m.pada.biz Karya Indah Mawaddah Rahmasita Gelak canda tawa di kala srengenge menyelimuti masa itu Langkah demi Langkah menyusuri jalan itu Membaur Bersama pelita yang meredup waktu itu Bersamamu rasa syukur meruntuhkan ego ku Kala itu,  Pasca kegelapan merenggut tawa ku Hati mengkaku memberi pilu Dari sekujur senduku Laksana ngelu yang berlalu Dingin kala itu masih membersamai ku Mengisi ruang yang pernah hangat akan tuturmu Di gubuk penuh luruh yang mematuh Kala srengenge itu aku bersyukur Membersamai mu memang meruntuhkan ego ku Rasa kehilangan pun menjadi ikhlas  Ikhlas akan menerima kehilangan mu Canda tawa itu, Menutup luka yang berlalu, Meski srengenge hanya cahaya yang redup, Tapi kehangatan canda mu, Memberiku keniscayaan Malang, 31 Oktober 2022

Pekan Ini Puisi Saja

Gambar
Sumber : wallhere.com Oleh   : Ahmad Jaelani Yusri Di bawah naungan hujan yang syahdu Ku tak jemu   melirik rintik gemericik rindu Lantas hujan membuatku membatu Melihat keajaiban langit sendu   Terpana pada bayang-bayang dibalik rintik gerimis Bayang-bayang kenangan di masa lalu yang kaku Aku tak mau kembali ke masa itu Yang setiap hujan, banjir selalu bertamu Yang setiap hujan, atap mengizinkan air masuk malu-malu Yang setiap,,,, selalu becek melulu Tak ada tahun baru disitu Hanya ada hari-hari yang kelabu   Aku terpana pada bayang-bayang rintik hujan awan kelabu Saat adik lahir ke dunia baru Di lembur cuma ada kelambu Dan ibu bersimpuh di bale itu Dinding-dinding kayu nan rapuh Lantai yang terkelupas acuh Lumut jamur di ujung pintu   Terpana aku pada bayang-bayang ibu di awan kelabu Kenapa ada sosok sekuat itu Yang mengajarkan kekuatan kalbu Pada anaknya yang banyak nan lugu Aral melintang menerjang Me...

PENANTIAN

Gambar
sumber : https://images.app.goo.gl/niXCk8pZiZt4JmKt5 Oleh : Meisya Eva Natasya Ketika waktu tak lagi tersisa Jam, menit, dan detik menjadi penentu Berkelahi dengan waktu, bergelut dengan masa Mengerti apa yang terjadi  Ku kira ini benar Tidak, ternyata salah Disaat hati ingin taqwa,  Namun raga selalu mementingkan dunia Padahal aku tau, jarak kemenanganku hanya antara Hamparan sajadah dan hayya ‘alalfalah sangatlah dekat Sayup- sayup terdengar panggilan  mengajakku untuk mendekap Membangunkanku untuk taat Mengingatkan bahwa dunia bukan segalanya Kini waktu bukanlah untuk senda gurau Terlalu singkat untuk itu semua Hidup di atas kehendak dan kemauan-Nya Apa yang dilakukan akan dibalas dengan setimpal Hanya penantian untuk di kehidupan yang sebenarnya Ketika malaikat maut mengangkat pedang Dan menghampiri untuk menjemput Di situlah akhir dari segalanya

Panggil Aku Hujan, Rindu, Senja

Gambar
Panggil Aku Hujan, Rindu, Senja Oleh : Meisya Eva Natasya Panggil aku hujan Bila rintikku mampu samarkan air matamu  Hadirku membasahi ladang hatimu  Lalu, engkau menjadi orang paling bersyukur di bumi Nya Panggil aku rindu Bila keberadaanku adalah temu yang kau nanti  Kepergianku adalah pisah yang ingin kau hindari Lalu, kebersamaan kita adalah bahagia yang selalu ingin kau jalani Panggil aku senja Bila warnaku membuatmu enggan untuk beranjak Panggil saja aku demikian Dan aku akan memanggilmu semesta

ANDAI

Gambar
ANDAI Oleh Sauqi Abdullah Terpejam,  Melayang dalam cakralawa angan  Sebuah kenangan yang tertinggal Seorang anak kecil, bermain ria di halaman Rasa diri ingin kembali Lelah dengan semua kedewasaan Terbeban hiruk pikuk kehidupan Ingin tertawa lepas tanpa beban Berderu tangis tanpa kesukaran Berlarian kesana kemari Berandai cita dan mimpi Oh, Masa seindah ini Hanya terbalas kata "andai"

BOLEHKAH AKU

Gambar
Oleh Fitria Nuraini Ardianti  Bolehkah aku sedikit bercerita Tentang bagaimana rasanya Memendam perasaan kecewa Yang sedang menerpa jiwa Dan hadir secara tiba-tiba Tanpa aku duga sebelumnya Bolehkah sedikit ku ungkapkan Bagaimana hancurnya perasaan Ketika hilangnya sebuah tujuan Disertai datangnya penyesalan Dengan hati yang penuh akan keraguan Bolehkah sedikit ku ungkapkan Tentang datangnya berbagai cercaan Yang seolah mengunci pergerakan Dan semakin menambah beban pikiran Namun, bolehkah aku berkata Tentang bagaimana seharusnya Kita menanggapi itu semua Yang seharusnya sudah terbiasa Akan hadirnya rasa kecewa Jangan ragu untuk mencoba Melawan pilu untuk menjadi tawa Melawan resah untuk menggapai cita Dan abaikan semua suara Yang dapat membuatmu putus asa

Ini Adalah Narasi

Gambar
  Oleh Muflikhah Ulya Kita, telah sampai pada ujung narasi Bersama, diksimu yang menjelma tanda titik   Lantas, paragraf kita utuh menjadi catatan Sebuah arsip tentang perasaan   Sampai, suatu waktu   Kita, berada pada sebuah titik   Dimana, suatu hal Yang menurut kita baik, belum tentu hadir menjadi yang terbaik.     Malang, 18 September 2022

Bima Itu Di Mana?

Gambar
  Source: Travelingyuk.com Oleh Siti Rahmatillah   Kerap kali banyak yang tak tau Bima dalam arah peta Mungkin mereka buta atau enggan meretas keberadaannya Selalu saja, bahkan sekelas tokoh publik pun keliru dalam menyebutkan tata letak wilayahnya Bima itu di sini, ujung timur pulau Sumbawa Ia ada, tak pernah hilang dari Bumi Indonesia                                            Tuan dan Puan harus mengetahui Bima adalah wilayah yang berdikari dalam memerdekakan NKRI Sera Suba menjadi saksi Kala itu, Sultan Bima dengan tegas mengeluarkan titahnya dengan gelora teriakan “Merdeka!!!” Sang merah putih berkibar dengan bangga Pertanda Bima menyerahkan segenap jiwa dan raga untuk bangsa dan negara Pun menolak gerakan kaum-kaum yang tidak ingin mengambil bagian di dalamnya ...

Nikmati Hari Hari mu

Gambar
   Nikmati Hari Hari mu Oleh Lely Musdalifah Hai kamu, jalani hidup mu, nikmatilah Walupun sakit, pedih Dan rumit sekalipun Jangan Lah kau putus asa . Jalanmu tlah kau tentukan Percayalah Allah akan slalu ada untuk mu Jangan kau pedulikan orang lain. Yang tau hidup mu hanya kamu  Bukan orang lain… So, don't be sad. Keep fighting. Pondok Pesantren Darun Nun Malang

BOLEHKAH AKU

Gambar
Oleh Fitria Nuraini Ardianti  Bolehkah aku sedikit bercerita Tentang bagaimana rasanya Memendam perasaan kecewa Yang sedang menerpa jiwa Dan hadir secara tiba-tiba Tanpa aku duga sebelumnya Bolehkah sedikit ku ungkapkan Bagaimana hancurnya perasaan Ketika hilangnya sebuah tujuan Disertai datangnya penyesalan Dengan hati yang penuh akan keraguan Bolehkah sedikit ku ungkapkan Tentang datangnya berbagai cercaan Yang seolah mengunci pergerakan Dan semakin menambah beban pikiran Namun, bolehkah aku berkata Tentang bagaimana seharusnya Kita menanggapi itu semua Yang seharusnya sudah terbiasa Akan hadirnya rasa kecewa Jangan ragu untuk mencoba Melawan pilu untuk menjadi tawa Melawan resah untuk menggapai cita Dan abaikan semua suara Yang dapat membuatmu putus asa

Belenggu Rindu

Gambar
sumber : kbbi.lektur.id Oleh : Muh. Sabilar Rusydi Sesak Aku tersesak  Akan tekanan rindu yang kian mendesak Belenggu-belenggu rindu Menjerat dada Menusuk kalbu Melantunkan isak lara Sabda mantra dinda lafalkan Intonasi merdu dinda dendangkan Menggema dalam ruang pendengaran Menjalar ke seluruh ruang badan Ku lempar kembali keluar Akan rindu yang kian menjalar Tak tahan kanda tertampar Dari rindu akan dinda yang menawan

SUNYI MEMBAWA RINDU

Gambar
  SUNYI MEMBAWA RINDU Karya : Satria Yudha Pradansa Malam berbalut sunyi Dihiasi cahaya bintang nan apik Dan kesepian yang datang menyelimuti Kerinduan yang tak dapat terbendung lagi Membuatku tenggelam dalam air mata Tak kuat lagi ku menahan rasa Teringat akan suka duka kita Ingin kuluapkan semua isi kalbu Namun apalah dayaku Kau pergi membawa rasamu Dan meninggalkan kepedihanmu Kini ku sendiri disini Meratapi nasibku Yang tak kunjung membaik ini