RANGSANG HATIMU, MANTAPKAN HATIMU

Oleh: Ainu Habibi

Mengenal dunia? kata yang sering kita dengar, atau bahkan sering terlintas di benak kita, banyak manusia yang ingin mengenal dunia, siapa yang tak ingin mengenal dunia ini? Pernahkah terlintas olehmu berapa banyak orang yang hidup di dunia namun tak dapat mengenalinya atau bahkan diperbudak oleh dunia? Perbandingan dunia dan akhirat bias diukur dengan seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam air laut. Lihatlah, seberapa banyak air yang ia dapatkan di jari tangannya itu (HR. Ibnu Majah dari Al Musaurid).

Di antara perkara yang dapat melapangkan dada dan melenyapkan air kesedihan dengan berjalan menjelajah dunia, negeri. Membaca menyaksikan bagaimana pena-pena kekuasaan menuliskan tanda-tanda keindahan di atas daun kelor. Betapa tidak, Allah menciptakan langit dan bumi, laut dan gunung bukti indahnya alam semesta.

Keluarlah dari rasa yang membuat dirimu aman, buka mata hatimu perhatikan apa yang ada dalam diri kita dan sekitar, dakilah gunung-gunung, jamahlah tanah di lembah-lembah, panjatlah batang-batang di pepohonan dan ciumkan hidungmu atas bunga mawar! Keluarlah dari rumah anda, tutup kedua mata anda dengan kain hitam, kemudian berjalanlah di bumi Allah yang sangat luas dengan senantiasa berdzikir dan bertasbih.

Menjelajahi pelosok negeri merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan. Bahkan, banyak para dokter merekomendasikan untuk sesekali keluar dan menikmati dunia. Maka dari itu, nikmati alam ini, bergembira, berpikir, dan sekaligus menghayati ciptaan Allah yang sangat luas ini.

Pada suatu saat, Utsman bin Affan bercerita, “suatu saat di tengah hari, aku melihat Zaid bin Tsabit keluar dari istana Marwan. Dalam hati, saya bertanya-tanya, ada apakah ia gerangan pada saat seperti ini? Aku yakin, pasti ada sesuatu yang penting ia bawa. ”Utsman mendekati Zaid dan langsung bertanya, ada apa gerangan wahai Zaid? Zaid menjawab, aku membawa sesuatu yang aku dengar langsung dari Nabi SAW sabdakan kepadamu? Zaid menjawab, Rasullah SAW bersabda, siapa yang menjadikan dunia sebagai ujung akhir ambisinya, Allah akan pisahkan ia dengan yang diinginkannya, lalu Allah akan menjadikan kefakiran membayang di pelupuk kedua matanya. Padahal Allah sudah pasti akan memberikan dunia kepada setiap manusia sesuai dengan yang telah ia tetapkan. Tapi, siapa yang menjadikan akhirat sebagai ujung akhir ambisinya, maka Allah akan mengumpulkan dan mencukupi segala kebutuhannya di dunia. Lebih dari itu Allah akan membuat hatinya menjadi kaya. Dunia akan selalu mendatanginya, meskipun ia enggan untuk menerimanya (HR. Ibnu Majah dari Utsman bin Affan).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

CARA JITU DIDO'KAN MALAIKAT