KISAH - KASIH

Oleh: Arfiatul Aliyah


Terbukti bahwa ungkapan “ Kasih ibu sepanjang masa” benar adanya. Seorang ibu akan selalu mengorbankan apapun demi anaknya, sekalipun nyawa sebagai taruhannya. Ketika sang anak sakit, ibu akan selalu menungguinya, mendoakannya bahkan meminta pada tuhan untuk menggantikan posisi sang anak yang sedang sakit dengan dirinya. Begitu besar nya pengorbanan seorang Ibu. Dan tentunnya seorang ibu tidak pernah meminta imbalan akan pengorbanannya. Lalu sudahkah kita, sebagai seorang Anak berbakti kepada Ibu, orang yang sudah mengandung hingga melahirkan kita di dunia?

Ikatan batin antara Ibu dan Anak juga benar adannya. Meski terbentang oleh jarak yang tidak bisa dibilang dekat, namun hati akan selalu terikat. Tak peduli seberapa jauh kaki melangkah, ikatan batin tak akan pernah terpisah. Bahkan Ketika seorang anak dalam keadaan lapar atau sedang dirundung masalah, sang ibu juga bisa merasakannya meski tersekat tempat. Begitupun sebaliknya saat sang Ibu merasakan kesepian, seorang anak akan merasa berat hati ketika sudah meninggalkan sang ibu untuk melakukan kewajiban dalam menuntut ilmu. Hanya air mata yang mengalir beriring doa mungkin yang dapat dilakukan sebagai penebus rasa bersalah. Karna seolah tidak ada hal yang bisa dilakukan selain meratapi penyesalan dengan tangis dan memohon kepada sang pencipta untuk menjaga sang Ibu. 

Kendati seorang anak berpisah dengan ibunya, namun kasih sayang seorang Ibu kepada Anaknya tidak pernah terputus. Hal itu dikarenakan seorang Ibu-lah yang telah mengandung selama Sembilan bulan lamanya, hingga melahirkan ke dunia. Tak hanya sampai situ saja seorang Ibu juga-lah yang menyusui, merawat hingga besar, bahkan sang Ibu juga-lah yang menjadi guru pertama bagi seorang anak. Maka dari itu hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw yang menyebutkan kata “Ibumu” tiga kali dalam hadisnya, sebagaimana hadits di bawah;

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: أُمُّكَ قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوْك

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkaata: “Ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku pergauli dengan baik?’ beliau menjawab, ‘Ibumu’, ia kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’, Nabi menjawab, ‘Ibumu!’, ‘Kemudian siapa lagi?’, Nabi menjawab, ‘Ibumu’, orang tersebut bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi menjawab, ‘kemudian Bapakmu’.” (HR. Bukhari 5971 dan Muslim 2548)

Dalam hadits nabi diatas sangat jelas dipaparkan mengenai status seorang Ibu yang mana bis akita lihat bahwa seorang anak akan lebih terbuka dengan Ibunya. Hal itu juga diperkuat dengan pernyataan yang sering kita dengar bahwa “ surga ada di telapak kaki ibu ”. Maka dari itu sudah seharusnya kita sebagai seorang Anak menghormati dan memuliakan Ibu. Sebagaimana keikhlasan seorang Ibu merawat sang anak dengan segenap jiwa dan seluruh hidupnya yang telah dia korbankan untuk sang anak tercinta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

CARA JITU DIDO'KAN MALAIKAT