(لا إله إلّا الله) MIFTAHUL JANNAH


 Oleh: Siti Laila ‘Ainur Rohmah


Mendengar istilah miftahul jannah, kerap terdengar di telinga kita bahwasanya itu merujuk kepada salah satu kalimat thayyibah/kalimat tauhid yang berbunyi لا إله إلّا الله (tiada Tuhan selain Allah SWT). Dari artinya saja sudah menunjukkan bahwa kalimat ini merupakan bukti pengakuan seorang hamba kepada Tuhan-Nya (Allah SWT) jika tidak ada dzat yang patut disembah kecuali Allah SWT semata. Sehingga, kalimat ini menjadi syarat utama bagi orang-orang yang mau masuk Islam dan beriman kepada-Nya. Oleh karena itu, kalimat لا إله إلّا الله juga disebut sebagai kalimat syahadat.  

Kembali ke istilah “Miftahul Jannah” yang artinya kunci surga. Ibarat sebuah rumah yang pintunya dalam keadaan tertutup (terkunci), jika kita ingin masuk ke dalam tentu membutuhkan sebuah kunci untuk membukanya dan masuk. Kunci tersebut merupakan kunci asli yang memiliki gerigi sempurna dan sesuai dengan tempatnya. 

Begitu juga seorang hamba yang menginginkan bisa masuk ke surga-Nya Allah SWT. Hendaknya mereka mengetahui kunci yang mampu menghantarkannya sampai ke surga-Nya yakni kalimat لا إله إلّا الله. Sebagaimana firman Allah SWT,

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa'at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (Az-Zukhruf:86)

Dalam sebuah riwayat pada kitab النصائح العباد juga dijelaskan “Barangsiapa mengucapkan  لا إله إلّا الله dengan ikhlash/murni masuk surga.” Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana cara mengikhlashkan dengan لا إله إلّا الله, Ya Rasulallah? Rasulullah pun menjawab, cara mengikhlashkan لا إله إلّا الله yaitu dengan menghindari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT. 

Pada akhirnya, inti dari miftahul jannah dengan kalimat لا إله إلّا الله tidak sekedar diucapkan bil lisan, akan tetapi juga harus memenuhi syarat-syaratnya (menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya). Sehingga apa yang diucapkan itu membawa manfaat baginya. Karena pada hakikatnya dengan لا إله إلّا الله seorang hamba hanya mengharap kekuatan kepada Allah SWT. Wa allahu a’lamu bisshowab.


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

CARA JITU DIDO'KAN MALAIKAT