SEDIKIT KALIMAT UNTUK KAMU

 


Nur Sholikhah

Kau biarkan kamarmu berantakan dengan tumpukan tugas, lembaran-lembaran berkas, dan bayangnya yang membekas. Pagi itu kau bangun pagi, menyibak gorden, menengok langit yang masih kelam.

Kau bergumam, "Hari ini kuharap lebih menyenangkan."

Kemarin kau merasa begitu lelah, orang-orang banyak menitipkan amanah. Hingga tangan kananmu terasa ngilu karena kau buat untuk menyanggah kepalamu di meja. Bukan, bukan kepalamu yang berat. Tapi isi dalam pikiranmu yang membuat kau terikat.

Dan di akhir pekan, kau ingin bebas. Kau ingin menghabiskan waktu hanya untuk dirimu sendiri. Tak ingin kau biarkan orang lain mencuri atau menyita waktumu dengan lebih.

Kau ingin pergi jalan-jalan sendiri, ke toko buku, ke mall, atau supermarket. Lalu kau duduk santai di bangku-bangku panjang pinggir jalan raya tengah kota. Kau saksikan betapa ramainya kendaraan berlalu lalang. Dan pikiranmu mulai menerawang, matamu memandang langit, dan kau berusaha mendengarkan suara hati nuranimu sendiri.

Buku yang kau pegang tak juga kau baca. Hanya kau genggam dan kau lihat judulnya. Kesibukan membuatmu sudah jarang berduaan dengan buku. Kau sibuk dengan laptop, deretan angka, smartphone, lembaran-lembaran kertas, dan tugas-tugas.

Kau rindu rasanya berimajinasi, membaca alur cerita pada cerpen dan novel. Kau rindu rasanya merangkai kata menjadi larik puisi, kata-kata motivasi, cerpen yang mengedukasi, dan cerita-cerita mini. Waktumu banyak kau luangkan untuk orang lain, tidak lagi untuk dirimu sendiri.

Ah, memang begitu tuntutan hidup. Kau hidup memang untuk orang lain bukan? Semua apa yang kau lakukan tidak lain memang untuk memuaskan orang lain bukan? Kini saat waktu dan tenagamu banyak terkuras, kau ingin kembali. Kembali fokus pada hobi, kembali menjadi anak-anak yang penuh tawa dan mudah melupakan luka.

Namun, semua hanya dalam angan. Kau harus terima keadaan dan menghadapi kenyataan. Bukan malah bersembunyi di balik ketakutan. Ada banyak orang yang mencintaimu, ada banyak orang yang menitipkan harapan besar padamu.

Pelan-pelan semua akan terselesaikan, satu persatu akan memberikan pelajaran. Hidupmu menjadi banyak pengalaman dan pikiranmu tak lagi stagnan. Hatimu menjadi banyak berlatih, emosimu pelan-pelan akan terkendali, kau menjadi mudah memaafkan dan memaklumi tanpa sakit hati.

Malang, 13 Oktober 2020



Pondok Pesantren Darun-Nun Malang


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

BIOGRAFI PENGARANG KITAB QAMUS AL MUHITH