REVIEW FILM MATI ANAK

 


Oleh : Meisya Eva Natasya

 

Judul               : MatiAnak

Sutradara         : Derby Romero

Produksi          : Pichouse Films

Produser          : Manoj Punjabi

Penulis             : Wiliam Chandra, Wendy Chandra

Tanggal liris     : 28 Maret 2019

Durasi              : 1:25:20

Bahasa             : Indonesia

 

            Film yang disutradarai oleh Derby Romero. Film ini bercerita tentang sekelompok anak kecil yang tinggal di sebuah panti asuhan bernama Harapan Baroe yang diasuh oleh Ina dan seorang temannya. Di awal tahun 90 an, Ina adalah wanita naif namun rajin dan berkepribadian kuta, tinggal di sebuah panti asuhan miskin yang berisi anak-anak yatim piatu dengan berbagai kelakuan. Suatu hari, kepala desa membawa seorang anak pendiam bernama Andi yang merupakan satu-satunya korban selamat dari keluarga yang meninggal secara misterius dan sadis. Ina menerima Andi walaupun kondisi keuangan panti sedang tidak baik. Dia yakin dengan bahwa dengan kasih saying Andi akan sembuh dari traumanya. Namun, sejak kedatangan Andi, hal-hal aneh mulai terjadi. Mereka mulai menerima bantuan dari orang-orang tang dikenal dan mereka pun merasa senang. Namun mereka juga mulai melihat sosok wanita yang menghantui mereka dan kematian-kematian yang tak wajar terjadi dipanti tersebut. Ina harus melindungi anak-anaknya dan menyelamatkan panti tersebut dari kekuatan gelap yang terlihat.

            Film ini dimulai dengan adegan pembantaian satu keluarga oleh sosok tak kasat mata. Tapi aneh, hanya anak bungsu mereka yang tidak ketakutan dan baik-baik saja. Keanehan tersebut membuat kita yakin bahwa Andi yang akan menjadi penyebab teror tersebut. Panti Harapan Baroe ini dijaga oleh Ina, temannya dan juga pak Rosman yang sangat galak kepada anak-anak asuhnya. Galaknya pak Rosman kemungkinan besar terkait dengan kondisi finansial panti yang harus tetap memberi makan anak-anaknya. Andi yang selamat dari peristiwa pembantaian tersebut dititipkan kepanti asuhan tempat ina bekerja. Kedatangan Andi yang semula ditolak pak Rosman karena keterbatasan makanan dipanti yang membuat Ina semakin berkorban untuk panti yang ia jaga dan membuat Andi supaya dapat diterima dilingkungan panti. Kebaikan Ina ini dikarenakan dirinya yang hidup dilingkungan yang sama.

            Film yang berlatarkan tahun 90 an ini sudah cukup baik ilustrasinya. Selain dari kalender dan narasi awal, klasik cerita pada film didukung dengan fakta bahwa uang 150 ribu rupiah sudah terbilang cukup banyak untuk membiayai hidup anak-anak panti. Pada awal adegan, film ini sangat dapat dinikmati karena menampilkan karakter anak-anak panti yang natural            dan cukup menghibur. Memasuki adegan kedua, film ini seolah berhenti menjadi film keluarga dam bertranformasi menjadi film horor. Para tokoh tampak melakukan hal yang sudah benar saat strategi pada pertengahan film terjadi, apalagi setelah kepergian pak Rosman dan teman pengasuhnya Ina.

            Perubahan karakter Ina setelah kejadian tersebut bukanlah masalah yang merusak jalan cerita. Ina pun mempunyai tekad untuk mencari kebenaran tentang tragedy yang telah menimpa Andi dan mengumpulkan petunjuk dari pesan-pesan hantu yang menampakkan diri kepadanya, yang mengatakan kata-kata “sudah mati lari” selalu disampaikan secara berulang-ulang oleh para hantu.

            Namun kekurangan dari kekurangan film ini adalah bagaimana film yang terlalu cepat dalam menguraikan kebenaran demi kebenaran pada film, baik dari penjelasan kepala desa dan petunjuk yang ditemukan sendiri oleh Ina. Begitu pula dengan saat mencari petunjuk. Walaupun pertanyaan mengenai identitas Andi dan alasan ikut diserangnya si ibu donator panti terjawab dengan baik, tetapi penyampaian pada cerita sangatlah cepat. Tampaknya film ingin sesegera mungkin diakhiri dengan “pertunjukan utama” diakhir cerita yang membuat para penontonnya mengatakan inilah Hereditary versi Indonesia.

           

           

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

CARA JITU DIDO'KAN MALAIKAT