SEMBRONO


 Oleh: Moh. Rizal Haqqul Yakin

Pagi-pagi sekali, sebelum terik matahari aku sudah bangun dan bersiap untuk pergi ke suatu acara, rencananya aku juga mau menginap semalam di sana. Kebetulan aku gak sendirian, dua hari sebelumnya aku dikabari kalau temanku akan pergi ke acara yang sama dan mengajak goncengan bareng. Pasnya lagi aku masih bingung mau pinjam motor, karena tempat acaranya lumayan jauh di luar kota. Kebetulan banget pokoknya, ibarat dikasih makan pas bingung lapar gak ada uang, hehehe.

Aku jalan ke tempat tinggalnya sambil bawa helm, ya aku pikir karna jauh juga tempat acaranya. Kalau nggak, ya tetap bawa helm juga sih, hehehe, namanya juga biar aman, siapa tau pas di jalan ketemu Polisi.

Tiba di sana firasatku mulai gak enak, saat temanku ini gak pakai helm.

 

(percakapan kami dalam bahasa Jawa)

"awakmu nggak gowo helm ta?"

"gak wis helm ku dek njero, aku isin lek ketahuan Abuya lek'e metu ora izin", saut nya sambil memakai sepatu.

 

Oh iya, temanku ini lagi mondok, jadi agak di batasin para santri-santrinya untuk keluar dan menginap. Perasaan yang nggak enak mulai pudar seiring guyonan kami berdua di perjalanan. Aku pikir juga kami berangkat pagi-pagi, nggak akan ketemu polisi jugalah.

 

Tiba di perempatan jalan besar, kami agak gelabakan., karena  di pinggir jalan terlihat ada Polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Bingung, takut, campur aduk lah. Tapi namanya terlanjur dan gak mungkin juga balik lagi untuk mengambil helm, kami nekat lewat sambil nundukin kepala biar gak  ketahuan kalo gak pakai helm.

 

Alhamdulillahnya kami gak ketahuan, dan gak di berhentiin sama Pak Polisi. Kami pun lanjut ke Pakis dan tiba di acara itu dengan aman.

 

Kami pun mengikuti rangkaian acara tersebut sampai selesai di esok harinya

 

Esok harinya kami berdua berangkat pulang, dengan keadaan yang sama cuma pakai satu helm.

Awalnya firasatku mulai gak enak lagi, tapi berdasar pengalaman kemaren waktu berangkat, jadi aku fikir akan sama, hehehe semoga.

Saat itu kami berangkat siang hari, pas kondisi jalan lagi ramai-ramainya. di perjalanan kami guyon lagi, ya buat nenangin diri intinya, hehehe.

 

"wani ta pak polisi kate nangkep warga (pedekar silat) opo meneh santri koyok awakmu iki, wkwk"

"lho, yo ora kiro lah, wkwkwk" sautnya sambil ketawa terbahak-bahak,

"iyo wes, aman brati yo"

 

Sebelumnya teman ku ini juga seorang pendekar silat selain seorang santri.

 

Nah, tiba di perempatan jalan yang sama, kami masih tenang-tenang dan  gak ngerasa apa-apa. Tetapi, ternyata pas belok  ada Pak Polisi terlihat dari jauh menyetop dengan melambaikan tangannya, seketika itu kami pun bingung, dan gak tau lagi mau ngapain selain menuruti instruksi beliau. Karena mau putar balik pun, jalan yang kami lewati merupakan satu arah dan kondisinya juga lagi ramai banget. Yah, pasrah lah.

Setelah di berhentikan kami di arahkan menuju pos polisi.  Kami ditilang, stnk motor yang kami pakai juga di sita. Parahnya lagi kami dapat pelanggaran ganda, karena selain gak pakai helm, kami gak ada yang bawa sim.

Sepulang dari pos polisi tersebut, di sepanjang jalan yang awalnya dipenuhi dengan guyonan menjadi sunyi penuh diam diantara kami berdua.

Dalam hati “kapok wis, ora sembrono maneh”. 


Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENGUNJUNGI MUSEUM BLAMBANGAN

MOTIVASI ALA IMRITHI UNTUK KAUM MUDA

CARA JITU DIDO'KAN MALAIKAT