KHUTBAH JUMAT KEPANJANGAN
Hariski Romadona Setya
Amir merasa sebal dikarenakan Kyai Najib
khutbah jumatannya sangat lama dan bikin bosan. Padahal kan yang begitu-begitu
hukumnya kan makruh.
“Gus Muin ngerjain saya ya? Aku kira
kita jumatan pindah kampung dikarenakan disana khutbahnya jelas, singkat, dan
padat plus dapat makanan, eh ternyata malah sebaliknya” Kata Amir kepada Gus Muin ketika pulang
jumatan dengan mengendarai C70.
Gus Muin mengakak
“Kamu sih Mir, dari dulu sering
ngomongin Kyai Najib. Beliau kalau khutbah lama sekali katamu. Makanya aku ajak
kamu kampung sebelah yang kebetulan jadwal beliau khutbah. biar kamu ngerasain”
kata Gus Muin.
“Ya Allah Gus Gus, saya kapok jumatan
kalau yang khutbah Kyai Najib. Capek. Coba Njenengan bilang ke Kyai
Najib kalau khutbah jangan lama-lama, kan makhruh hukumnya. Ataukah mungkin
Kyai Najib tidak tahu tentang dalil itu? kata Amir kepada Gus Muin.
Gus Muin tersenyum manis
“Kok kamu tahu tentang dalil-dalil tentang khutbah
jumat?” tanya Gus Muin
“Ya tahu dong Gus. Walaupun saya santri
yang sedikit ndablek, tetapi saya masih ingat sedikit pelajaran tentang
khutbah. Ada riwayat menerangkan kalau Nabi mimpin jamaah sholat itu bacaan
surat-suratnya itu sedang, begitu juga dengan khutbahnya. Pas lah tidak sedikit
dan kelamaan” Kata Amir.
Gus Muin manggut- manggut
“Monggo Gus gaskan, Njenengan bilang ke
Kyai Najib” Kata Amir
“Masalahnya itu Mir, ukuran sedang itu
sebenarnya relatif, ada yang mengatakan terlalu pendek ada juga yang terlalu
panjang. Makanya dalam riwayat Nabi tidak disebutkan durasinya secara pasti,
itu semua tergantung situasi dan konteks ketika khutbah jumat disampaikan” Kata
Gus Muin.
“Lah makanya itu Gus, khutbahnya Kyai
Najib itu sudah tidak proporsional” Kata Amir
“Itu
kan menurutmu Mir” Kata Gus Muin
“Maksudnya bagaimana Gus?” Tanya Amir
“Kamu pernah belum sowan belum ke
beliau, Kyai Najib?” Gus Muin bertanya balik
“Belum pernah Gus. Beliau kan ndalemnya
ada di kampung sebelah. Kalau saya mau tanya tentang agama ya ke Njenengan
Gus, apa jauh-jauh”
“Nah, makanya itu..., “ Kata Gus Muin
“Makanya bagaimana Gus?” Amir bingung
“Ya makanya, kamu masih berpikiran
khotbah itu ada yang lama banget, kamu pikir khatib itu nggak tahu soal dalil
tentang khutbah yang terlalu panjang” Kata Gus Muin.
“Ehh, bagaimana itu Gus ?”
“Kyai Najib khutbah panjang itu ada
maksud dan tujuanya Mir” Kata Gus Muin
“Oalah, memang kenapa beliau begitu Gus?”
Tanya Amir
“Lingkungan Masjid Kyai Najib itu kan
dekat pabrik besar. Tadi kamu lihat tidak Mir, banyak buruh pabrik yang ikut
jumatan ?” Tanya Gus Muin
“Oiya Gus, aku melihatnya. Tadi pas
menit menit terakhir waktu khutbah kedua, banyak rombongan berseragam tiba tiba
dateng” Kata Amir
“Nah jadi ceritanya gini Mir, itu adalah
karyawan-karyawan pabrik yang telat jumatan. Karena waktu istirahat mereka
tidak banyak, maka sebagian dari mereka memanfaatkan waktunya untuk makan siang
dahulu. Soalnya selepas jumatan mereka harus sudah masuk sif kerja lagi” Kata
Gus Muin
“Oalah Gus, makanya Kyai Najib memperpanjang
khutbahnya ya Gus ? agar mereka masih bisa jumatan walaupun sebentar” Tanya
Amir
“Lah itu kamu pinter, yang namanya Kyai
pasti ‘alim, beliau tahu apa yang harus beliau lakukan agar masyarakat
juga bisa tetap menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim” Kata Gus Muin
“Kok Njenengan tahu Gus Kyai
Najib melakukan strategi itu ?” Tanya Amir lagi
“Kan aku sering ke ndalem beliau
Mir, jadinya beliau banyak cerita tentang apa yang menjadi masalah umat zaman
sekarang” Jawab Gus Muin
Amir melongo. Sikapnya yang tadi
meremehkan Kyai Najib, tiba tiba berubah drastis
“Itu tadi yang namanya stigma. Orang
yang kita pikir berperilaku tidak sesuia dengan tafsir kita bisa dan kita
berasumsi kalau orang tersebut tidak ngerti apa-apa. Padahal sebenernya, justru
kita yang nggak tahu apa-apa” Kata Gus Muin lalu tertawa.
Komentar
Posting Komentar